- Home>
- efineprin hcl injeksi
Posted by : Unknown
Rabu, 21 Oktober 2015
Membuat injeksi Efineprin Bitartras 25mg/ml sebanyak 7
vial.
II.
TEORI
A. Injeksi
Menurut Farmakope Indonesia Edisi III, injeksi
adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus
dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan, yang
disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau
melalui selaput lendir.Sedangkan menurut Farmakope
Indonesia Edisi IV, injeksi adalah injeksi yang dikemas dalam wadah 100 ml
atau kurang. Umumnya hanya larutan obat dalam air yang bisa diberikan secara
intravena. Suspensi tidak bisa diberikan karena berbahaya yang dapat menyebabkan
penyumbatan pada pembuluh darah kapiler.
Sediaan steril
injeksi dapat berupa ampul, ataupun berupa vial. Injeksi vial adalah salah satu
bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan pada dosis ganda dan memiliki
kapasitas atau volume 0,5 ml – 100 ml. Injeksi vial pun dapat berupa takaran
tunggal atau ganda dimana digunakan untuk mewadahi serbuk bahan obat, larutan
atau suspensi dengan volume sebanyak 5 ml atau pun lebih.
Sediaan steril
untuk sedian perenteral digolongkan menjadi lima jenis yang berbeda yaitu :
a.
Obat
larutan, atau emulsi yang digunakan untuk injeksi ditandai dengan nama injeksi,
contohnya adalah injeksi insulin.
b.
Sediaan
padat kering atau cairan pekat yang tidak mengandung dapar, pengencer atau
bahan tambahan lain dan larutan yang diperoleh setelah penambahan pelarut yang
memenuhi persyaratan injeksi. Sediaan ini dapat membedakannya dari nama
bentuknya yaitu steril, contohnya Ampicilin Sodium steril.
c.
Sediaan
seperti tertera pada no b, tetapi mengandung satu atau lebih dapar, pengencer atau
bahan tambahan lain dan dapat dibedakan dari nama bentuknya.yaitu untuk
injeksi, contohnya Methicillin Sodium untuk injeksi.
d.
Sediaan
berupa susupensi serbuk dalam medium cair yang sesuai dan tidak
disuntikkansacara intravena atau di dalam saluran spinal, dan dapat dibedakan
dari nama bentuknya yaitu susupensi steril. Contoh Cortisao Suspensi steril.
e.
Sediaan
padat kering dengan bahan pembawa yang sesuai membentuk larutan yang memenuhi
semua persyaratan untuk suspensi steril setelah penambahan pembawanya yang
sesuai. Dan dapat membedakannya dari nama bentuknya yaitu steril untuk
suspensi. Contohnya Ampicilin steril untuk suspensi.
Syarat-syarat Injeksi :
1.
Bebas
dari mikroorganisme, steril atau dibuat dari bahan-bahan steril di bawah
kondisi yang kurang akan adanya kombinasi mikroorganisme (proses aseptik).
2.
Bahan-bahan
bebas dari endotoksin bakteri dan bahan pirogenik lainnya.
3.
Bahan-bahan
yang bebas dari bahan asing dari luar yang tidak larut.
4.
Sterilitas
5.
Bebas
dari bahan partikulat
6.
Bebas
dari Pirogen
7.
Kestabilan
8.
Injeksi
sedapat mungkin isotonis dengan darah.
Rute-rute Injeksi :
1) Parenteral
Volume Kecil
a) Intradermal
Istilah
intradermal (ID) berasal dari kata "intra" yang berarti lipis dan
"dermis" yang berarti sensitif, lapisan pembuluh darah dalam kulit. Ketika
sisi anatominya mempunyai derajat pembuluh darah tinggi, pembuluh darah
betul-betul kecil. Makanya penyerapan dari injeksi disini lambat dan dibatasi
dengan efek sistemik yang dapat dibandingkan karena absorpsinya terbatas, maka
penggunaannya biasa untuk aksi lokal dalam kulit untuk obat yang sensitif atau
untuk menentukan sensitivitas terhadap mikroorganisme.
b) Intramuskular
Istilah
intramuskular (IM) digunakan untuk injeksi ke dalam obat. Rute intramuskular
menyiapkan kecepatan aksi onset sedikit lebih normal daripada rute intravena,
tetapi lebih besar daripada rute subkutan.
c) Intravena
Istilah intravena
(IV) berarti injeksi ke dalam vena. Ketika tidak ada absorpsi, puncak
konsentrasi dalam darah terjadi dengan segera, dan efek yang diinginkan dari obat
diperoleh hampir sekejap.
Injeksi intravena memberikan beberapa keuntungan :
a.
Efek
terapi lebih cepat .
b.
Dapat
memastikan obat sampai pada tempat yang diinginkan.
c.
Cocok
untuk keadaan darurat.
d.
Untuk
obat-obat yang rusak oleh cairan lambung.
Kerugiannya adalah meliputi :
a.
gangguan
kardiovaskuler dan pulmonar dari peningkatan volume cairan dalam sistem
sirkulasi mengikuti pemberian cepat volume cairan dalam jumlah besar;
b.
perkembangan
potensial trombophlebitis;
c.
kemungkinan
infeksi lokal atau sistemik dari kontaminasi larutan atau teknik injeksi septic
d.
pembatasan
cairan berair.
d) Subkutan
Subkutan (SC) atau
injeksi hipodermik diberikan di bawah kulit. Parenteral diberikan dengan rute
ini mempunyai perbandingan aksi onset lambat dengan absorpsi sedikit daripada yang
diberikan dengan IV atau IM.
e) Rute
intra-arterial
Disuntikkan langsung ke dalam arteri,
digunakan untuk rute intravena ketika aksi segera diinginkan dalam daerah
perifer tubuh.
f) Intrakardial
Disuntikkan
langsung ke dalam jantung, digunakan ketika kehidupan terancam dalam keadaan
darurat seperti gagal jantung.
g) Intraserebral
Injeksi ke dalam
serebrum, digunakan khusus untuk aksi lokal sebagaimana penggunaan fenol dalam
pengobatan trigeminal neuroligia.
h) Intraspinal
Injeksi ke dalam
kanal spinal menghasilkan konsentrasi tinggi dari obat dalam daerah lokal.
Untuk pengobatan penyakit neoplastik seperti leukemia.
i) Intraperitoneal
dan intrapleural
Merupakan rute
yang digunakan untuk pemberian berupa vaksin rabies. Rute ini juga digunakan
untuk pemberian larutan dialisis ginjal.
j) Intra-artikular
Injeksi yang
digunakan untuk memasukkan bahan-bahan seperti obat antiinflamasi secara
langsung ke dalam sendi yang rusak atau teriritasi.
k) Intrasisternal
dan peridual
Injeksi ke dalam
sisterna intracranial dan durameter pada urat spinal. Keduanya merupakan cara
yang sulit dilakukan, dengan keadaan kritis untuk injeksi.
Intrakutan (i.c). Injeksi yang dimasukkan secara
langsung ke dalam epidermis di bawah stratum corneum. Rute ini digunakan untuk
memberi volume kecil (0,1-0,5 ml) bahan-bahan diagnostik atau vaksin.
l) Intratekal
Larutan yang
digunakan untuk menginduksi spinal atau anestesi lumbar oleh larutan injeksi ke
dalam ruang subarachnoid. Cairan serebrospinal biasanya diam pada mulanya untuk
mencegah peningkatan volume cairan dan pengaruh tekanan dalam serabut saraf
spinal. Volume 1-2 ml biasa digunakan. Berat jenis dari larutan dapat diatur
untuk membuat anestesi untuk bergerak atau turun dalam kanal spinal, sesuai
keadaan tubuh pasien.
2) Parenteral
Volume Besar
Untuk pemberian
larutan volume besar, hanya rute intravena dan subkutan yang secara normal
digunakan. Rute pemberian, air mempunyai konstanta dielektrik tinggi sehingga
lebih mudah untuk melarutkan elektrolit yang terionisasi dan ikatan hydrogen
yang terjadi akan memfasilitasi pelarutan dari alkohol, aldehid, keton, dan
amin.
Syarat air untuk injeksi menurut USP :
a.
Harus
dibuat segar dan bebas pirogen.
b.
Tidak
mengndung lebih dari 10 ppm dari total zat padat.
c.
pH
antara 5-7
d. Tidak mengandung ion-ion
klorida, sulfat, kalsium dan amonium, karbondioksida, dan kandungan logam berat
serta material organik (tanin, lignin), partikel berada pada batas yang
diperbolehkan.
Aqua Pro Injeksi
Aqua bidest dengan
pH tertentu, tidak mengandung logam berat (timbal, Besi, Tembaga), juga tidak
boleh mengandung ion Ca, Cl, NO3, SO4, amonium, NO2,
CO3. Harus steril dan penggunaan diatas 10 ml harus bebas pirogen.
Aqua steril Pro Injeksi adalah air untuk injeksi yang disterilisasi dan dikemas
dengan cara yang sesuai, tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan
lainnya
Cara pembuatan : didihkan air selama 30 menit dihitung dari setelah air
mendidih di atas api lalu didinginkan. Cara : Aqua Pro Injeksi + karbon aktif 0,1% dari
volume, dipanaskan 60-70oC selama 15 menit. Tidak boleh menggunakan
Aqua DM karena ada zat-zat organik yang tidak bermuatan dapat lolos,
ditanggulangi dengan filtrasi karbon adsorben dan filtrasi bakteri.
1. Aqua
Pro Injeksi Bebas CO2
CO2
mampu menguraikan garam natrium dari senyawa organik seperti barbiturate dan
sulfonamide kembali membentuk asam lemahnya yang mengendap.
Cara pembuatan :
Mendidihkan air p.i selama 20-30 menit lalu dialiri gas nitrogen sambil
didinginkan.
2. Aqua
Pro Injeksi bebas O2
Dibuat dengan
mendidihkan air p.i selama 20-30 menit dan pada saat pendinginannya dialiri gas
nitrogen. Dipakai untuk melarutkan zat aktif yang mudah teroksidasi, seperti
apomorfin, klorfeniramin, klorpromazin, ergometrin, ergotamine, metilergotamin,
proklorperazin, promazin, promesatin HCl, sulfamidin, turbokurarin.
3. Pembawa
Non Aqua
Pembawa non aqua digunakan jika:
a.
Zat
aktif tidak larut dalam air
b.
Zat
aktif terurai dalam air
c.
Diinginkan
kerja depo dalam sediaan Syarat umum pembawa non air .
d.
Tidak
toksik, tidak mengiritasi dan menyebabkan sensitisasi
e.
Dapat
tersatukan dengan zat aktif
f.
Inert
secara farmakologi
g.
Stabil
dalam kondisi di mana sediaan tersebut biasa digunakan
h.
Viskositasnya
harus sedemikian rupa sehingga dapat disuntikan dengan muda
i.
Harus
tetap cair pada rentang suhu yang cukup lebar
j.
Mempunyai
titik didih yang tinggi sehingga dapat dilakukan sterilisasi dengan panas
k.
Dapat
bercampur dengan air atau cairan tubuh
Keuntungan injeksi :
a.
Respon
fisiologis yang cepat dapat dicapai segera bila diperlukan, yang menjadi
pertimbangan utama dalam kondisi klinik seperti gagal jantung, asma, shok.
b.
Terapi
parenteral diperlukan untukobat-obat yang tidak efektif secara oral atau yang
dapat dirusak oleh saluran pencernaan, seperti insulin, hormon dan antibiotik.
c.
Obat-obat
untuk pasien yang tidak kooperatif, mual atau tidak sadar harus diberikan
secara injeksi.
d.
Bila
memungkinkan, terapi parenteral memberikan kontrol obat dari ahli karena pasien
harus kembali untuk pengobatan selanjutnya. Juga dalam beberapa kasus, pasien
tidak dapat menerima obat secara oral.
e.
Penggunaan
parenteral dapat menghasilkan efek lokal untuk obat bila diinginkan seperti
pada gigi dan anestesi.
f.
Dalam
kasus simana dinginkan aksi obat yang diperpanjang, bentuk parenteral tersedia,
termasuk injeksi steroid periode panjang secara intra-artikular dan penggunaan
penisilin periode panjang secara i.m.
g.
Terapi
parenteral dapat memperbaiki kerusakan serius pada keseimbangan cairan dan
elektrolit.
h.
Bila
makanan tidak dapat diberikan melalui mulut, nutrisi total diharapkan dapat
dipenuhi melalui rute parenteral.
i.
Aksi
obat biasanya lebih cepat.
j.
Seluruh
dosis obat digunakan.
k.
Beberapa
obat, seperti insulin dan heparin, secara lengkap tidak aktif ketika diberikan
secara oral, dan harus diberikan secara parenteral.
l.
Beberapa
obat mengiritasi ketika diberikan secara oral, tetapi dapat ditoleransi ketika
diberikan secara intravena, misalnya larutan kuat dektrosa.
m. Jika pasien dalam keadaan
hidrasi atau shok, pemberian intravena dapat menyelamatkan hidupnya.
Kerugian Injeksi :
a.
Bentuk
sediaan harus diberikan oleh orang yang terlatih dan membutuhkan waktu yang
lebih lama dibandingkan dengan pemberian rute lainPada pemberian parenteral
dibutuhkan ketelitian yang cukup untuk pengerjaan secara aseptik dari beberapa
rasa sakit tidak dapat dihindari
b.
Obat
yang diberikan secara parenteral menjadi sulit untuk mengembalikan efek
fisiologisnya.
c.
Padapemberian
dan pengemasan, bentuk sediaan parenteral lebih mahal dibandingkan metode rute
yang lain.
d.
Beberapa
rasa sakit dapat terjadi seringkali tidak disukai oleh pasien, terutama bila
sulit untuk mendapatkan vena yang cocok untuk pemakaian i.v.
e.
Dalam
beberapa kasus, dokter dan perawat dibutuhkan untuk mengatur dosis.
f.
Sekali
digunakan, obat dengan segera menuju ke organ targetnya. Jika pasien
hipersensitivitas terhadap obat atau overdosis setelah penggunaan, efeknya
sulit untuk dikembalikan lagi.
g.
Pemberian
beberapa bahan melalui kulit membutuhkan perhatian sebab udara atau
mikroorganisme dapat masuk ke dalam tubuh. Efek sampingnya dapat berupa reaksi
phlebitis, pada bagian yang diinjeksikan.
Sterilisasi adalah
proses yang dirancang untuk menciptakan keadaan steril. Secara tradisional
keaadan steril adalah kondisi mutlak yang tercipta sebagai akibat penghancuran
dan penghilangan semua mikroorganisme hidup. Konsep ini menyatakan bahwa steril
adalah istilah yang mempunyai konotasi relative, dan kemungkinan menciptakan
kondisi mutlak bebas dari mikroorganisme hanya dapat diduga atas dapat proyeksi
kinetis angka kematian mikroba.
Cara Sterilisasi. Sediaan disterilkan dengan cara berikut
:
a.
Pemanasan
dalam otoklaf, sediaan yang akan disterilkan diisikan ke dalam wadah yang
cocok, kemudian ditutup kedap. Jika volume dalam tiap wadah tidak lebih dari
100 ml, sterilisasi dilakukan dengan uap air jenuh pada suhu 1150C
sampai 1160C selama 30 menit. Jika volume dalam tiap wadah lebih
dari 100 ml, waktu sterilisasi diperpanjang, hingga seluruh isi tiap wadah
berada pada suhu 1150C sampai 1160C selama 30 menit.
b.
Pemanasan
dengan bakterisida, sediaan dibuat dengan melarutkan atau mensuspensikan bakterisida
yang cocok dalam air untuk injeksi. Isikan ke dalam wadah, kemudian ditutup
kedap. Jika volume pada tiap wadah tidak lebih dari 30 ml, panaskan pada suhu 980C
sampai 1000C selama 30 menit. Jika volume dalam wadah lebih dari 30
ml waktu sterilisasi diperpanjang hingga seluruh isi tiap wadah berada pada
suhu 980C sampai 1000C selama 30 menit.
c.
Penyaringan,
larutan disaring melalui penyaring bakteri steril, diisikan ke dalam wadah
akhir yang steril, kemudian ditutup kedap menurut teknik oseptik.
d.
Pemanasan
kering, sediaan yang akan disterilkan dimasukkan ke dalam wadah kemudian
ditutup kedap atau penutupan ini dapat bersifat sementara untuk mencegah
cemaran.
Pada etiket wadah obat suntik harus tertera :
1.
Nama
obat.
2.
Presentase
masing-masing bahan obat atau kadar masing-masing bahan obat tiap satuan
volume.
3.
Nama
pembuat.
4.
Nama
dan kadar zat bakteriostatik yang ditambahkan.
5.
Nama
dan kadar zat tambahan untuk penyesuaian pH dan tonisitas.
6.
Untuk
sediaan padat, susunan, dan jumlah tiap zat.
7.
Susunan
dan jumlah cairan pembawa yang dibutuhkan untuk memperoleh obat suntik.
8.
Jika
obat suntik dibuat menurut cara aseptik dan belum diperiksa sterilitasnya harus
ditulis. Untuk pemakaian segera, dibuat secara aseptik.
9.
Letak
etiket pada wadah harus tida menutupi seluruh permukaan untuk memungkinkan
pemeriksaan isi wadah.
10. Tanggal Kadaluwarsa
Vial adalah salah satu wadah dari bentuk sediaan steril yang umumnya digunakan
pada dosis ganda dan memiliki kapasitas atau
volume 0,5-100 ml.
Vial dapat berupa takaran tunggal atau ganda. Digunakan untuk mewadahi
serbuk bahan obat, larutan atau suspensi dengan volume sebanyak 5 mL atau lebih
besar. Bila diperdagangan, botol ini ditutup dengan sejenis logam yang dapat
dirobek atau ditembus oleh jarum injeksi untuk menghisap cairan injeksi.
Hal yang perlu diperhatikan untuk sediaan injeksi dalam wadah vial (takaran
ganda):
1. Perlu pengawet karena digunakan berulang kali sehingga
kemungkinan adanya kontak dengan lingkungan luar yang ada mikroorganismenya
2.
Tidak perlu isotonis, kecuali untuk
subkutan dan intravena harus dihitung isotonis (0,6% – 0,2%) (Farmakope Indonesia IV hal. 13)
3.
Perlu dapar sesuai pH stabilitasnya
4.
Zat pengawet kecuali dinyatakan
lain, adalah zat pengawet yang cocok yang dapat ditambahkan ke dalam injeksi
yang diisikan dalam wadah ganda/injeksi yang dibuat secara aseptik, dan untuk
zat yang mepunyai bakterisida tidak perlu ditambahkan pengawet(Farmakope Indonesia IV hal 17).
B. Preformulasi
1. Bahan
aktif
a. Epinephrin
HCl
Nama kimia: C9H13NO3.HCl;
serbuk hablur renik, putih atauputih kuning gading.; agak sukar larut dalam
air,tidak larut dalam etanol 95% P dan dalam eter, mudah larut dalam larutan
asam mineral, dalam natrium hidroksida P dan dalam kalium hidroksida P.; dalam wadah
tetutup rapat,terlindung dari cahaya.; Khasiat: simpatomimetikum.; OTT: Golongan
anestetik umum ( misalnya kloroform, trikloroetilen, siklopropan, anestetik
hidrokarbon yang mengandung halogen (halogen) dan digitalis glikosida.
b. Farmakologi
epinephrin HCl
·
Farmakokinetik
a.
Absorbsi
Pada pemberian
oral, epinefrin tidak mencapai dosis tetapi karena dirusak oleh enzim COMT dan
MAO yang terdapat pada dinding usus dan hati.Pada penyuntikan subkutan,
absorbsi lambat karena terjadinya vasokontriksi lokal.IM : absorbsi cepat.
Inhalasi : Efek terutama pada saluran nafas.
b.
Biotransformas
dan Ekskresi
Epinefrin stabil
pada pembuluh darah. Degradasi terutama terjadi dihati, karena terdapat banyak enzim COMT dan MAO.Metabolit
epinefrin dikeluarkan melalu urine.
·
Indikasi
a.
Asma
bronkhial, edema angioneurotik, biduran/kaligata, glaukoma, serum sickness
(sakit karena alergi serum) dan syok alergik.
b.
Menghentikan
perdarahan bila digunakan pada permukaan kulit dan membran mukosa yang
berdarah.
c.
Menangani
terhentinya detak jantung pada kasus syok, anestesi/pembiusan, elektrokusi,
injeksi intrakardial memungkinkan untuk diberikan.
·
Kontraindikasi
a.
Dilatasi
Jantung
b.
Insufisiensi
koroner
c.
Syok
selama anestesi atau pembiusan
d.
Kerusakan
otak organik
e.
Glaukoma
sudut tertutup dan persalinan
·
Efek Samping
a.
Kardiovaskuler :Angina, aritmia jantung, nyeri
dada, flushing, hipertensi, peningkatan kebutuhan oksigen, pallor, palpitasi,
kematian mendadak, takikardi (parenteral), vasokonstriksi, ektopi ventrikuler.
b.
SSP :Ansietas, pusing,
sakit kepala, insomnia.
c.
Gastrointestinal :Tenggorokan kering, mual, muntah,
xerostomia.
d.
Genitourinari :Retensi urin akut pada pasien
dengan gangguan alirankandung kemih.
·
Mekanisme Kerja
Menstimulasi
reseptor alfa-, beta1-, dan beta2-adrenergik yang berefek relaksasi otot polos
bronki, stimulasi jantung, dan dilatasi vaskulatur otot skelet; dosis kecil
berefek vasodilatasi melalui reseptor beta2-vaskuler; dosis besar menyebabkan
konstriksi otot polos vaskuler dan skelet.
·
Interaksi Obat
a.
Dengan
Obat Lain.
Epinefrin
merupakan obat simpatomimetik dengan aksi agonis pada reseptor alfa maupun
beta, harus digunakan hati-hati bersama obat simpatomimetik lain karena
kemungkinan efek farmakodinamik yang aditif, yang kemungkinan tidak diinginkan.
Juga hati-hati digunakan pada pasien yang menerima obat-obat seperti:
albuterol, dobutamin, dopamin, isoproterenol, metaproterenol, norepinefrin,
fenilefrin, fenilpropanolamin, pseudoefedrin, ritodrin, salmeterol dan
terbutalin.
b.
Dengan
Makanan.
Epinefrin tidak digunakan melalui oral
·
Dosis Pemberian
a.
Dewasa :0.3-0.5 mg s.c atau i.m ; dapat
diulang bila perlu tiap 10-15 menit untuk anafilaksis, atau tiap 20 menit
hingga 4 jam untuk asthma. Dosis tunggal maksimal 1 mg. Pada kasus syok yang
berat, harus digunakan rute IV. Dosis 0.1-0.25 mg IV (diencerkan 1:10.000)
pelan-pelan dalam waktu 5-10 menit, bila perlu dapat diulang tiap 5-15 menit,
dan diikuti pemberian infus IV 1-4 mcg/menit.
b.
Anak-anak
dan bayi : 0.01 mg/kg atau 0.3 mg/m2 SC; bila perlu dapat diulang setelah 20 menit
hingga 4-jam (dosis tunggal maksimal: 0.5 mg). Atau, 0.1 mg IV pelan-pelan
dalam waktu 5-10 menit (diencerkan 1:100.000) diikuti 0.1-1.5 mcg/kg/menit
infus IV.
·
Rute Pemberian
Diinjeksikan
secara intramuscular ke dalam jaringan otot pantat atau paha.
2. Bahan
Tambahan
Natrii Chloridum
Nama Kimia: NaCl,; hablur heksahedral
tidak berwarna, atau serbuk putih tidak berbau rasa asin.; Larut dalam 2,8
bagian air, dalam 2,7 bagian air mendidih, dan dalam kurang lebih 10 bagian
gliserol P, sukar larut dalam etanol (95%) P.; pH: 6,7 – 7,3; Dalam wadah
tertutup baik.; Khasiat: sumber ion Kalsium dan Natrium.; OTT: larutan NaCl
korosif terhadap besi, membentuk endapan bila bereaksi dengan perak, garam
merkuri, agen oksidasi kuat, pembebas klorine dan larutan asam sodium klorida,
kelarutan pengawet nipagin menurun dalam larutan ini.; Stabilitas: larutan ini
sangat stabil tetapi dapat menyebabkan perpecahan partikel kaca dari tipe kaca
tertentu. Larutan cair ini dapat disterilisasi dengan cara autoclave atau
filtrasi. Dalam bentuk padatan stabil dan harus disimpan dalam wadah tertutup
rapat, sejuk dan tempat kering..(Farmakope
Indonesia III, hal 403-404)
Asam askorbat
Nama Kimia: Acidum
Ascorbicum,; pH: 2,1-2,6,;
serbuk atau hablur; putih atau agak kuning; tidak berbau; rasa asam.; mudah
larut dalam air; agak sukar larut dalam etanol (95%) P, praktis tidak larut
dalam kloroform P, dalam eter P dan benzen P.; dalam wadah tertutup,terlindungi
dari cahaya.; Khasiat: antioksidan,; OTT: aminofilin,
bleomisin sulfat, eritromisin laktobionat, natrium bikarbonat
Fenol
Rumus empiris: H6H5OH
,; Hablur bentuk jarum atau massa hablur; tidak berwarna atau merah jambu; bau
khas; kaustik.Larut dalam 12 bagian air; mudah larut dalam etanol (1% ) P,
dalam kloroform P,
dalam eter P, dalam
gliserol P, dan
dalam minyak lemah.; Dalam wadah tertutup rapat, terlindung cahaya, di tempat
teduh.; Fungsi: pengawet
Aqua pro
injeksi
Cairan
jernih atau
tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa. Dapat bercampur dengan pelarut
polar dan elektrolit. Berfungsi sebagai
bahan pembawa sediaan iv. OTT :
Dalam sediaan farmasi, air dapat bereaksi dengan obat dan zat tambahan lainnya
yangmudah terhidrolisis (mudah terurai dengan adanya air atau kelembaban).
Stabilitas : air stabil dalam setiap keadaan (es, cairan, uap panas).(
Farmakope Indonesia IV, hal. 112)
C. Sterilisasi
Nama
alat yang di perlukan
|
Cara
sterilisasi
|
Waktu
|
|||
Awal
|
Akhir
|
||||
Jam
|
Paraf
|
Jam
|
Paraf
|
||
Gelas ukur
|
Autoclave 121°C (30 menit)
|
||||
Corong
|
Autoclave 121°C (30 menit)
|
||||
Kertas perkamen
|
Autoclave 121°C (30 menit)
|
||||
Kertas saring
|
Autoclave 121°C (30 menit)
|
||||
Kapas/ pipet
|
Autoclave 121°C (30 menit)
|
||||
erlenmeyer
|
Oven 150°C (30 menit)
|
||||
Beaker glass
|
Oven 150°C (30 menit)
|
||||
Vial
|
Oven 150°C (30 menit)
|
||||
Sendok spatula
|
Flambeer 20 detik
|
||||
Pinset
|
Flambeer 20 detik
|
||||
Gelass arloji
|
Flambeer 20 detik
|
||||
Pengaduk kaca
|
Flambeer 20 detik
|
||||
Karet pipet
|
Rebus 15 menit
|
||||
aquadest
|
Rebus 30 menit
|
||||
Sterilisasi Akhir
|
|||||
D. Formulasi lengkap
1. Perhitungan bahan
a. Formulasi acuan
Tiap ml mengandung:
R/ Epinephrini
Bitartras 1,8 mg
Natrii
Chloridum 8
mg
Natrii
Pyrosulfis 1 mg
Chlorbutanolum 1 mg
Aqua Pro
Injeksi ad 1 ml
b. Formulasi
yang di buat
Tiap ml mengandung :
Epinephrin HCl 1%
Aqua pro injeksi ad 10
ml
E. Tonisitas
EEpinephrin HCl = 0,18
Efenol = 0,35
C Epinephrin = 1%
Cfenol =
0,5%
Casam askorbat =
0,1%
WNaCl = 0,9 - ∑ C . E
=
0,9 - {(1x0,18) + ( 0,5x0,35) +
(0,1x0,18 ) }
=
0,9 – 0,373
=

Untuk 111 ml =
x 0,527 = 0,58497 gram
a. Perhitungan
bahan
Volume yang dibuat = n . v + 6
= 10 . 10,5 + 6 = 111 ml
·
Ephinephrini
HCl =
x 111
= 1,11 gram
Yang di gunakan Ephinefrin bitartras =
1110 x 1,8 =1998 mg
Dilebihkan 5% = 5/100 x
1998 = 99,9mg
Ditimbang = 1998 + 99,9= 2097,9mg
= 2100
mg
·
Fenol = 0,5/100 x 111 =
0,555 gram
·
Asam
askorbat = 0,1/100 x 111 =
0,111 gram = 111 mg ≈ 100 mg
·
Natrii
Chloridum = 0,5849 gram = 584,9
mg ≈ 600 mg
·
Aqua
pro injeksi ad =111 ml
b. Prosedur
kerja
1.
Siapkan
alat dan bahan dan lakukan sterilisasi dengan cara diatas
2.
Timbang
epinefrin dengan kaca arloji lalu larutkan dengan aqua pro injeksi didalam
erlenmayer.
3.
Tambahkan
fenol campur homogen (massa 1)
4.
Timbang
asam askorbat dengan kaca arloji yang telah dibilas dengan aqua pro injeksi.
5.
Larutkan
asam askorbat dengan sebagian aqua pro injeksi dalam erlenmeyer
6.
Timbang
Natrii Chloridum dengan kaca arloji yang telah dibilas dengan aqua pro injeksi.
7.
Larutkan
Natrii Chloridum dengan sebagian aqua pro injeksi dalam erlenmeyer
8.
Campurkan
semua bahan yang telah dilarutkan, tambahkan aqua ad 67ml cek pH kestabilan
yaitu 2,5 - 4,0
9.
Basahi
kertas saring dengan aqua pro injeksi, letakkan dalam corong lalu saring
larutan
10. Tambah aqua pro injeksi steril
ad 111 ml, masukkan ke vial masing-masing 10,5 ml sebanyak 10 vial dengan spuit
injeksi.
11. Tutup vial sampai tertutup
rapat lalu ikat dengan simpul.
12. Lakukan sterilisasi akhir
sediaan injeksi menggunakan autoclave 15-30 menit.
13. Beri etiket penandaan.
F.
Evaluasi
Fisik
1.
Penetapan
pH
Bertujuan untuk
menetapkan pH suatu sediaan larutan agar sesuai dengan
Ketentuan.
Ø Menggunakan
pH meter:
·
pH meter dikalibrasi dengan larutan
dapar standar yang pH nya sama dengan pH yang akan diukur
·
Elektrode pH meter dibersihkan dan
dikeringkan
·
Elektrode dicelupkan dalam suspensi
yang akan diukur pH nya
·
Menekan “auto read” lalu “enter”
·
Ditunggu tombol AR sampai berhenti,
lalu dicatat pH nya
Ø Menggunakan
kertas pH :
Kertas pH dicelupkan ke sediaan , sesuaikan dengan pH standarnya .
2.
Uji
Kejernihan dan Warna
Setiap larutan obat
suntik harus jernih dan bebas dari kotoran sehingga diperlukan uji kejernihan
secara visual.
Prosedur :
wadah-wadah kemasan akhir diperiksa satu persatu dengan menyinari wadah dari
samping. Dengan latar belakang sehelai papan yang separuhnya di cat berwarna
hitam dan separuhnya lagi di cat berwarna putih. Latar belakang berwarna hitam
dipakai untuk menyelidiki kotoranyang berwarna muda, sedangkan yang berlatar
putih untuk kotoran-kotoran berwarna gelap. Jika tidak ditemukan kotoran dalam
larutan maka larutan tersebut sudah memenuhi syarat.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar